EDELWEISS
ABADIKU
Wajahnya indah, sangat indah,
matanya bulat tajam namun tetap sayu, hidungnya tegak yang menggambarkan
kepribadian tegas namun tetap lembut. Lisannya indah laksana kelopak mawar yang
baru saja bersemi. Sempurna, menuruku
dia mampu merutuhkan slogan no body is
perfect. Tapi jauh dari itu bukanlah kesempurnaan wajahnya yang membuatku melabuhkan
hatiku pada dirinya. Sosok misterius, yang sangat memberi kesan mendalam di
dinasti hatiku.
Detik berganti detik, hingga
berubah menjadi satuan hari, begitulah waktu berjalan sesuai takarannya,
mengikis setiap yang ada menjadi tidak ada, memudarkan yang ada menjadi
luntur. Hingga takdir mengantarkanku pada dunia yang merubah masaku
pada waktu itu.
Mengapa? Karena tak hanya saja,
tepukan tangan yang menghasilkan bunyi yang keras, karena persetujuan kedua
belah pihak, maka seperti itulah aku dan dirinya melalui peristiwa di waktu
teirindah itu, masa 10 tahun silam yang
indahnya masih membekas di hati terdalamku.
Hari-hari kulewati dengan sangat
indah bersamanya, tak ada komunikasi langsung ataupun tidak langsung. Kita hanya
berkomunikasi lewat setiap tundukan wajah pada saat bertemu. Jangankan
menyapanya, haribaanku masih belum
sanggup menatap matanya, entahlah setiap bertemu dengannya aku hanya sanggup
menundukkan mahkotaku, tak mampu rasanya berhadapan dengan makhluk sempurna
itu. Tapi inilah ikatan misterius yang lebih membuatku mengerti makna cinta
sebenarnya, indah sekali bahkan tanpa kata. Seperti itulah cinta yang sebenanya
lisan tak mampu berucap, hanya hati yang merasakan degup dan keindahan, serta
seni sejati dari cinta itu sendiri.
Aku mengenalnya karena ia adalah
orang yang merantau, dan tinggal di dekat rumahku. entahlah, sepertinya takdir
begitu indah menata runtutan kisahku bersamanya. Apalagi rasaku padanya tak
bertepuk sebelah tangan walaupun tanpa komunikasi. Di kala itu dia masih SMA
begitu juga aku. Aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Begitu
lengkap rasanya kisah remajaku bersama teman-teman, dilengkapi lagi hadirnya dia,
sang mentari yang mensupplai energi keceriaan dalam setiap hariku.
Setiap hari, aku bertemu dia karena
jarak rumah kita sangat dekat, sering kali kami bertemu di sekitar rumah namun
tidak di sekolah, karena sekolah kami yang berbeda. Setiap aku bertemu
dengannya aku malu, aku selalu menundukkan wajahku tak sanggup aku melihat
mentari itu, silau jiwa dan hatiku. Entahlah, sebenarnya aku tidak bisa
bercerita banyak tentang dia, karena walaupun kami menjalani hubungan selama
hampir setahun namun tak ada cerita banyak karena tak ada komunikasi, yang ada
hanyalah kisah-kisah kami tanpa ucapan. Hanya ucapan-ucapan melalui isyarat yang
terjadi antara aku dan dia. Namun, kendati demikian ibuku mengetahui akan hal
itu karena tidak sengaja dia membaca diary yang aku tulis tentangnya, yang aku
tulis pada malam hari. Namun tak apalah karena ibuku menganggap hubunganku
dengannya tak serius.
Pernah suatu ketika aku dan dia
mencoba bertemu, tuk sekedar mengobrol ringan, mungkin niat dia ingin
mengutarakan maksud hatinya secara langsung karena sebelumnya hanya
mengutarakan lewat perantara yaitu seseorang yang merupakan sepupuku, juga
merupakan sepupunya. Kami sama-sama
dekat dengan orang tersebut, namanya mbak syarah. Lewat mbak syarah aku dan dia
bisa mengungkapkan setiap gejolak hati
kami yang begitu eksotis. Dan takdir juga yang mengantarkan niat tersebut tak
hanya menjadi impian belaka, akhirnya untuk pertama dan terakhir kalinya aku
dan dia bisa bertemu secara langsung. Masa-masa yang sangat menyenangkan
sekali, indah takkan aku lupa setiap detail peristiwa pada saat pertemuan kami,
aku sangat ingat sekali dengan jelas bagaimana warna bajunya hitam pekat denga
menggunakan sarung biru, makhluk terindah tersebut dibalut pakaian yang casual
namun tetap menampakkan keimanan di hatinya. Aku juga takkan lupa bagaimana
telingaku pertama mendengar secara langsung, dia menyebut namaku. Entah berapa energi
yang dibutuhkan jantungku pada saat itu untuk memompa darah, degupnya berdesir
kencang mengisyaratkan aku tak sanggup dan ragaku belum siap menghadapi makhluk
sempurna itu. Dia sempurna, anehnya aku tidak tau mengapa dia sempurna karena
bukanlah logikaku yang memberinya label sempurna, namun hatiku, sehingga
tiadalah didapat alasan tersebut. Namun sayang tak sempat kita mengobrol banyak
di kala itu, mungkin sekitar 10 menit dengan obrolan ringan, layaknya MC yang
sedang membuka sebuah acara. Ayahku menelponku agar segera pulang. Namun aku
mengerti alur obrolan dia padaku untuk mengutarakan isi hatinya padaku, namun
apa dikata hal itu belum sempat tersampaikan. Namun tak apalah memanglah aku
dan dia sudah terbiasa dengan obrolan hanya dengan isyarat. Yang berkomunikasi
adalah hati yang bergejolak lantaran cinta suci itu menghampiri hati kami, lebih-lebih
dia cinta pertamaku. Cinta yang merupakan pemula dari cinta-cinta selanjutnya, cinta
yang takkan pernah tergores dari ingatan.
Setelah kejadian itu aku semakin
yakin pada cinta kita berdua, dan kami berencana serius untuk kedepannya.
Seperti biasa setiap ucapanku tersampaikan padanya lewat mbak syarah, begitu
pula sebaliknya. Kami ingin hubungan kami serius dan abadi sampai suatu waktu
aku dan dia menghalalkan hubungan ini karena menjalani perintah Tuhan kami.
Indah sangat indah, dari sana banyak teman-temanku yang kagum pada hubungan
kami. Dengan sistem yang tanpa komunikasi namun bisa bertahan dan setulus itu. Itulah
cinta sebenarnya, komunikasi lisan tak lagi dibutuhkan jika cinta sejati
menghampiri, karena apalah artinya lisan, jika hati dan mata lebih piawai
menjelaskan tentang maha rasa, maha indah, kebahagiaan tertinggi, yaitu cinta.
Hingga suatu ketika hubungan kami
sudah hampir setahun, yang setiap harinya aku rasakan kebahagiaan mendalam
serasa aku wanita terbahagia di dunia ini, serasa bidadari iri padaku, karena telah memiliki orang yang dicintainya, yang
tidak harus menangis karena kecewa cinta pertamanya harus menjadi pembuka yang
sangat tidak menyenangkan. Aku pun berkeinginan untuk meminta izin ingin lebih
serius padanya kepada ibuku, dalam hal ini bukan bertunangan, tapi aku
menginginkan kedua orang tua kami mengetahui akan hubungan anaknya. Entah
kenapa sudah menjadi kebiasaanku setiap ada sesuatu yang istimewa, aku
terkadang senang menceritakan kepada ibuku. Namun untuk hal pribadi seperti ini
apalagi masalah cinta, karena di bidang ini aku masih pendatang baru sehingga
sekitar hampir setahun barulah energi keberanian untuk mengisahkan secara
langsung terkumpul. Walaupun hubunganku dan ibuku sangatlah begitu dekat.
Aku pun menceritakan tentang aku
dengannya kepada ibuku, bagaimana aku sangat mencintainya, mencintai segala
yang ada pada dirinya, mengisahkan
hubungan kita yang hampir setahun yang tanpa ucapan, apalagi rayuan. Sehingga
mungkin legal aku mengatakan cinta kami suci tak ada bakteri yang
menginfeksinya. Ibuku mendengarkan ceritaku dengan antusias tentang semua itu. Namun
jawaban tak menyenangkan keluar dari ibuku, karena ternyata dia tak bisa
memberi izin hubungan kami, karena beberapa faktor dan alasan. Sedih bukan main
hatiku remuk, terasa terombang-ambing
jiwa ini terkena gelombang yang seketika dengan frekuensi yang tinggi. Aku
mengira dengan diamnya ibuku selepas membaca diary itu beliau setuju, namun
bukan ibuku namanya jika tak mampu menyembunyikan hal yang tidak beliau sukai. Jika
tidak demi kebaikan orang lain, apa lagi
dia adalah buah hatinya.
Dari dulu sebelum aku mengenal
cinta aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku tidak boleh menikah
ataupun mempunyai hubungan yang serius jika keluargaku terutama ibuku dasarnya
memang tidak mengizinkan. Karena tidak
sembarang janji antara aku dan diriku sendiri mengenai hal tersebut, karena
selama ini aku menerawang dan mencermati tentang hubungan orang lain yang tanpa
restu orang tuanya. Aku sangat meyakini ridho orang tua adalah ridho Tuhanku,
tak mungkin aku melangkah tanpa izin dari seseorang yang menjadi perantara aku terlahir
ke dunia ini. Sehingga berat aku sebenarnya
memilih pilihan yang keduanya menjadi pilihan imbangku, mejadi sebab dari setiap
senyum tertulusku. Tuhan, aku berlindung kepadamu dari keburukan makhluk dan perkara yang buruk.
Setelah mengetahui pendapat ibuku
tentang hubungan kami, aku mulai
berdiskusi dengan diriku sendiri untuk membuat suatu pilihan, aku harus
melepasnya, melepas edelweissku. Bukankah edelweiss adalah bunga yang tumbuh di
ketinggian gunung, dan bunga yang abadi karena bisa memekar dalam waktu lama. Tetapi
untuk mendapatkan edelweiss butuh keberanian dan resiko besar hingga sampai di
puncak gunung. Namun bukankah kita harus bijaksana untuk tidak memetiknya
karena bunga edelweiss langka dan dilindungi. Seperti itulah edelweissku tak
seharusnya aku memetik karena edelweissku akan tetap tumbuh dan tetap mekar di relung
hatiku yang abadi, entah dia berbentuk utuh seperti pertama kali aku menemuinya
ataupun sudah layu hingga berwujud kenangan. Kenangan yang terukir indah, yang
telah menjadi sumbangsih estetika dalam koleksi lukisan jiwaku, kenangan
yang bisa kuambil hikmahnya dan akan
kuceritakan tentang hikmah tersebut kepada anak-anakku kelak. Demi kebahagiaan sejatiku
di hari esok yang Tuhan ilhamkan lewat gerakan hati ibuku untuk tidak memberi ACC
hubungan kita. Karena ucapan orang tua
bagiku keramat yang sejatinya tidak boleh aku abaikan walaupun dengan itu aku
harus melepas edelweissku, Edelweiss abadiku.
No comments:
Post a Comment