Saturday, October 28, 2017

EDELWEISS ABADIKU

EDELWEISS ABADIKU
Wajahnya indah, sangat indah, matanya bulat tajam namun tetap sayu, hidungnya tegak yang menggambarkan kepribadian tegas namun tetap lembut. Lisannya indah laksana kelopak mawar yang baru saja bersemi.  Sempurna, menuruku dia mampu merutuhkan slogan no body is perfect. Tapi jauh dari itu bukanlah kesempurnaan wajahnya yang membuatku melabuhkan hatiku pada dirinya. Sosok misterius, yang sangat memberi kesan mendalam di dinasti hatiku.
Detik berganti detik, hingga berubah menjadi satuan hari, begitulah waktu berjalan sesuai takarannya, mengikis setiap yang ada menjadi tidak ada, memudarkan yang ada menjadi luntur.  Hingga takdir  mengantarkanku pada dunia yang merubah masaku pada waktu itu.
Mengapa? Karena tak hanya saja, tepukan tangan yang menghasilkan bunyi yang keras, karena persetujuan kedua belah pihak, maka seperti itulah aku dan dirinya melalui peristiwa di waktu teirindah itu,  masa 10 tahun silam yang indahnya masih membekas di hati terdalamku.
Hari-hari kulewati dengan sangat indah bersamanya, tak ada komunikasi  langsung ataupun tidak langsung. Kita hanya berkomunikasi lewat setiap tundukan wajah pada saat bertemu. Jangankan menyapanya,  haribaanku masih belum sanggup menatap matanya, entahlah setiap bertemu dengannya aku hanya sanggup menundukkan mahkotaku, tak mampu rasanya berhadapan dengan makhluk sempurna itu. Tapi inilah ikatan misterius yang lebih membuatku mengerti makna cinta sebenarnya, indah sekali bahkan tanpa kata. Seperti itulah cinta yang sebenanya lisan tak mampu berucap, hanya hati yang merasakan degup dan keindahan, serta seni sejati dari cinta itu sendiri.
Aku mengenalnya karena ia adalah orang yang merantau, dan tinggal di dekat rumahku. entahlah, sepertinya takdir begitu indah menata runtutan kisahku bersamanya. Apalagi rasaku padanya tak bertepuk sebelah tangan walaupun tanpa komunikasi. Di kala itu dia masih SMA begitu juga aku. Aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Begitu lengkap rasanya kisah remajaku bersama teman-teman, dilengkapi lagi hadirnya dia, sang mentari yang mensupplai energi keceriaan dalam setiap hariku.
Setiap hari, aku bertemu dia karena jarak rumah kita sangat dekat, sering kali kami bertemu di sekitar rumah namun tidak di sekolah, karena sekolah kami yang berbeda. Setiap aku bertemu dengannya aku malu, aku selalu menundukkan wajahku tak sanggup aku melihat mentari itu, silau jiwa dan hatiku. Entahlah, sebenarnya aku tidak bisa bercerita banyak tentang dia, karena walaupun kami menjalani hubungan selama hampir setahun namun tak ada cerita banyak karena tak ada komunikasi, yang ada hanyalah kisah-kisah kami tanpa ucapan. Hanya ucapan-ucapan melalui isyarat yang terjadi antara aku dan dia. Namun, kendati demikian ibuku mengetahui akan hal itu karena tidak sengaja dia membaca diary yang aku tulis tentangnya, yang aku tulis pada malam hari. Namun tak apalah karena ibuku menganggap hubunganku dengannya tak serius.
Pernah suatu ketika aku dan dia mencoba bertemu, tuk sekedar mengobrol ringan, mungkin niat dia ingin mengutarakan maksud hatinya secara langsung karena sebelumnya hanya mengutarakan lewat perantara yaitu seseorang yang merupakan sepupuku, juga merupakan  sepupunya. Kami sama-sama dekat dengan orang tersebut, namanya mbak syarah. Lewat mbak syarah aku dan dia bisa mengungkapkan setiap gejolak  hati kami yang begitu eksotis. Dan takdir juga yang mengantarkan niat tersebut tak hanya menjadi impian belaka, akhirnya untuk pertama dan terakhir kalinya aku dan dia bisa bertemu secara langsung. Masa-masa yang sangat menyenangkan sekali, indah takkan aku lupa setiap detail peristiwa pada saat pertemuan kami, aku sangat ingat sekali dengan jelas bagaimana warna bajunya hitam pekat denga menggunakan sarung biru, makhluk terindah tersebut dibalut pakaian yang casual namun tetap menampakkan keimanan di hatinya. Aku juga takkan lupa bagaimana telingaku pertama mendengar secara langsung, dia menyebut namaku. Entah berapa energi yang dibutuhkan jantungku pada saat itu untuk memompa darah, degupnya berdesir kencang mengisyaratkan aku tak sanggup dan ragaku belum siap menghadapi makhluk sempurna itu. Dia sempurna, anehnya aku tidak tau mengapa dia sempurna karena bukanlah logikaku yang memberinya label sempurna, namun hatiku, sehingga tiadalah didapat alasan tersebut. Namun sayang tak sempat kita mengobrol banyak di kala itu, mungkin sekitar 10 menit dengan obrolan ringan, layaknya MC yang sedang membuka sebuah acara. Ayahku menelponku agar segera pulang. Namun aku mengerti alur obrolan dia padaku untuk mengutarakan isi hatinya padaku, namun apa dikata hal itu belum sempat tersampaikan. Namun tak apalah memanglah aku dan dia sudah terbiasa dengan obrolan hanya dengan isyarat. Yang berkomunikasi adalah hati yang bergejolak lantaran cinta suci itu menghampiri hati kami, lebih-lebih dia cinta pertamaku. Cinta yang merupakan pemula dari cinta-cinta selanjutnya, cinta yang takkan pernah tergores dari ingatan.
Setelah kejadian itu aku semakin yakin pada cinta kita berdua, dan kami berencana serius untuk kedepannya. Seperti biasa setiap ucapanku tersampaikan padanya lewat mbak syarah, begitu pula sebaliknya. Kami ingin hubungan kami serius dan abadi sampai suatu waktu aku dan dia menghalalkan hubungan ini karena menjalani perintah Tuhan kami. Indah sangat indah, dari sana banyak teman-temanku yang kagum pada hubungan kami. Dengan sistem yang tanpa komunikasi namun bisa bertahan dan setulus itu. Itulah cinta sebenarnya, komunikasi lisan tak lagi dibutuhkan jika cinta sejati menghampiri, karena apalah artinya lisan, jika hati dan mata lebih piawai menjelaskan tentang maha rasa, maha indah, kebahagiaan tertinggi, yaitu cinta.
Hingga suatu ketika hubungan kami sudah hampir setahun, yang setiap harinya aku rasakan kebahagiaan mendalam serasa aku wanita terbahagia di dunia ini, serasa bidadari iri padaku,  karena telah memiliki orang yang dicintainya, yang tidak harus menangis karena kecewa cinta pertamanya harus menjadi pembuka yang sangat tidak menyenangkan. Aku pun berkeinginan untuk meminta izin ingin lebih serius padanya kepada ibuku, dalam hal ini bukan bertunangan, tapi aku menginginkan kedua orang tua kami mengetahui akan hubungan anaknya. Entah kenapa sudah menjadi kebiasaanku setiap ada sesuatu yang istimewa, aku terkadang senang menceritakan kepada ibuku. Namun untuk hal pribadi seperti ini apalagi masalah cinta, karena di bidang ini aku masih pendatang baru sehingga sekitar hampir setahun barulah energi keberanian untuk mengisahkan secara langsung terkumpul. Walaupun hubunganku dan ibuku sangatlah begitu dekat.
Aku pun menceritakan tentang aku dengannya kepada ibuku, bagaimana aku sangat mencintainya, mencintai segala yang ada pada dirinya,  mengisahkan hubungan kita yang hampir setahun yang tanpa ucapan, apalagi rayuan. Sehingga mungkin legal aku mengatakan cinta kami suci tak ada bakteri yang menginfeksinya. Ibuku mendengarkan ceritaku dengan antusias tentang semua itu. Namun jawaban tak menyenangkan keluar dari ibuku, karena ternyata dia tak bisa memberi izin hubungan kami, karena beberapa faktor dan alasan. Sedih bukan main hatiku remuk,  terasa terombang-ambing jiwa ini terkena gelombang yang seketika dengan frekuensi yang tinggi. Aku mengira dengan diamnya ibuku selepas membaca diary itu beliau setuju, namun bukan ibuku namanya jika tak mampu menyembunyikan hal yang tidak beliau sukai. Jika tidak demi  kebaikan orang lain, apa lagi dia adalah buah hatinya.
Dari dulu sebelum aku mengenal cinta aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku tidak boleh menikah ataupun mempunyai hubungan yang serius jika keluargaku terutama ibuku dasarnya memang tidak  mengizinkan. Karena tidak sembarang janji antara aku dan diriku sendiri mengenai hal tersebut, karena selama ini aku menerawang dan mencermati tentang hubungan orang lain yang tanpa restu orang tuanya. Aku sangat meyakini ridho orang tua adalah ridho Tuhanku, tak mungkin aku melangkah tanpa izin dari seseorang yang menjadi perantara aku terlahir ke dunia  ini. Sehingga berat aku sebenarnya memilih pilihan yang keduanya menjadi pilihan imbangku, mejadi sebab dari setiap senyum tertulusku. Tuhan, aku berlindung kepadamu dari keburukan makhluk dan  perkara yang buruk.
Setelah mengetahui pendapat ibuku tentang hubungan kami,  aku mulai berdiskusi dengan diriku sendiri untuk membuat suatu pilihan, aku harus melepasnya, melepas edelweissku. Bukankah edelweiss adalah bunga yang tumbuh di ketinggian gunung, dan bunga yang abadi karena bisa memekar dalam waktu lama. Tetapi untuk mendapatkan edelweiss butuh keberanian dan resiko besar hingga sampai di puncak gunung. Namun bukankah kita harus bijaksana untuk tidak memetiknya karena bunga edelweiss langka dan dilindungi. Seperti itulah edelweissku tak seharusnya aku memetik karena edelweissku akan tetap tumbuh dan tetap mekar di relung hatiku yang abadi, entah dia berbentuk utuh seperti pertama kali aku menemuinya ataupun sudah layu hingga berwujud kenangan. Kenangan yang terukir indah, yang telah menjadi sumbangsih estetika dalam koleksi lukisan jiwaku, kenangan yang  bisa kuambil hikmahnya dan akan kuceritakan tentang hikmah tersebut kepada anak-anakku kelak. Demi kebahagiaan sejatiku di hari esok yang Tuhan ilhamkan lewat gerakan hati ibuku untuk tidak memberi ACC  hubungan kita. Karena ucapan orang tua bagiku keramat yang sejatinya tidak boleh aku abaikan walaupun dengan itu aku harus melepas edelweissku, Edelweiss abadiku.








No comments: